Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Lina pun rupanya sudah agak terangsang sehingga ia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu.
"Menurut kau tante seksi nggak, Di?" tanyanya.
"Wah seksi sekali tante" kataku.
"Seksi mana sama yang di film itu?" tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar.
"Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih" kataku.
"Ah masa sih?" tanyanya.
"Iya benar tante, swear.." kataku.
Jarak kami semakin merapat alasannya yaitu tante Lina terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu ia bertanya lagi padaku..
"Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama tante".
"Mmaauu tante.." Ah, menyerupai ketiban durian runtuh, kesempatan ini tidak tentu saya sia-siakan, eksklusif saja saya memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada tante Lina.
"Wahh barang kau lumayan juga, Di" katanya.
"Ah tante mampu aja.. Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. Sampe saya gemes deh ngeliatnya.." kataku.
"Ah pembangkang kau yah, Di" jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku.
"Waahh jangan dipegangin terus tante, ntar mampu tambah gede loh" kataku.
"Ah yang benar nih?" tanyanya.
"Iya tante.. Ehh.. Ehh saya boleh pegang itu nggak tante?" kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu.
"Ah boleh aja kalo kau mau" jawabnya.
Wah kesempatan besar, tapi saya agak sedikit takut, takut ia marah tapi tangan si tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga saya memberanikan diri untuk mengelus payudaranya.
"Ahh.. Arghh enak Di.. Kamu pembangkang ya" kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.
"Loh kok dilepas sih Di?" tanyanya.
"Ah takut tante marah" kataku.
"Oohh nggak lah, Di.. Kemari deh".
Tanganku digenggam tante Lina, kemudian diletakkan kembali di payudaranya sehingga saya pun semakin berani meremas-remas payudaranya.
"Aarrhh.. Sshh" rintihnya hingga semakin membuatku penasaran.
Lalu saya pun mencoba mencium tante Lina, sungguh di luar dugaanku, Tante Lina menyambut ciumanku dengan beringas. Kami pun lalu berciuman dengan nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal sekali itu.
"Ahh kau memang mahir Di.. Terusin Dii.. Malam ini kau mesti memperlihatkan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh".
"Tante, saya boleh buka baju tante nggak?" tanyaku.
"Oohh silakan Di", sambutnya.
Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, eksklusif saja saya menjilat-jilat payudaranya yang memang saya kagumi itu.
"Arrgghh.. Arrgghh.." lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan.
"Teruuss.. Teerruuss Di.. Ahh enak sekali.."
Lama saya menjilati putingnya sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya. Lalu sekilas kulihat tangan Tante Lina sedang mengelus-elus bab klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bab celananya untuk kulepaskan.
"Aahh buka saja Di.. Ahh"
Nafas Tante Lina terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan saya eksklusif membuka CD-nya dan lalu kuciumi. Sekarang Tante Lina sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu. Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah lembap itu.
"Arrhh.. Sshh.. Enak Di.. Enak sekali" jeritnya.
Setelah puas jariku bergerilya lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap itu. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun naik menyerupai mengecat saja. Tante Lina semakin kelabakan hingga ia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya.
"Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh", dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah.
Beberapa ketika kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya akan orgasme. Lalu kupercepat jilatanku dan bacokan jariku sehingga ia merasa keenakkan sekali lalu ia menjerit..
"Oohh.. Aarrhh.. Tante udah keeluuaarr Dii.. Ahh" sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan dan lidahku masih terus menjilati bab bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati hingga habis. Kemudian tubuhnya hening menyerupai lemas sekali.
"Wah ternyata kau mahir sekali, tante sudah lama tidak mencicipi kepuasan ini loh.." ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Lina. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh tante Lina dan saya pun masih memilin-milin puting tante yang sudah semakin keras itu.
"Aahh.." desahnya sambil terus mencumbu bibirku.
"Sekarang giliran tante.. Tante akan buat kau mencicipi nikmatnya badan tante".
Tangan tante Lina segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit tapi kudiamkan saja alasannya yaitu terasa enak juga diremas-remas oleh tangan tante Lina. Lalu saya juga tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang mengagumkan itu. Rupanya tante Lina mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas-remas payudaranya dengan sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang itu, seolah-olah menyerupai orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga tante Lina menjadi semakin blingsatan.
"Aahh kau suka sekali sama dada tante yah, Di?"
"Iya Tante abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih.. Terus besar tapi masih tetap kencang.."
"Aahh kau memang cerdik muji orang, Di.."
Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu tante Lina mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga saya pun mulai mencicipi kenikmatan yang luar biasa hingga alhasil Tante Lina berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian ia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya.
Aku benar-benar mencicipi nikmatnya service yang diberikan oleh Tante Lina. Lalu ia mulai membuka mulutnya dan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bab batang kemaluanku sehingga lembap oleh ludahnya. Selang beberapa menit setelah tante melaksanakan hisapannya, saya mulai mencicipi desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Lina kemudian kudorong perlahan sehingga ia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga ia mengangkang sempurna di depanku.
"Aahh Di, ayolah masukin batang kemaluan kau ke tante yah.. Tante udah nggak tabah mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan kau itu".
"Iiyaa tante" kataku.
Lalu saya mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi saya tidak eksklusif memasukkannya tapi saya gesek-gesekan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga tante Lina lagi-lagi menjerit keenakan..
"Aahh.. Aahh.. Ayolah Di, jangan tanggung-tanggung masukiinn.."
Lalu saya mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga agak sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang sekali itu.
"Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Di.. Teruss-teruuss.. Aahh"
Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante Lina sehingga ia mencicipi kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya. Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Lina juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali alasannya yaitu goyangan pantat tante Lina menimbulkan batang kemaluanku menyerupai dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya menyerupai empotan ayam. Sementara itu saya terus menjilati puting dan menjilati leher yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Lina mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi.
"Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh.." mendengar rintihannya saya semakin berangasan untuk segera menyelesaikan permainan ini.
"Aahh.. Cepat Di, tante mau keluuaarr.. Aahh"
Tubuh tante Lina kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya ia kembali orgasme, mampu kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya.
"Aahh.. Sshh.. Sshh", desahnya, lalu tubuhnya kembali hening menikmati sisa-sisa orgasmenya.
"Wahh kau memang hebaat Di.. Tante sampe keok dua kali sedangkan kau masih tegar"
"Iiyaa tante.. Bentar lagi juga Andi keluar nih.." ujarku sambil terus menyodok liang kemaluannya yang berdenyut-denyut itu.
"Aahh enak sekali tante.. Aahh.."
"Terusin Di.. Terus.. Aahh.. Sshh" erangan tante Lina membuatku semakin besar lengan berkuasa merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya.
"Aauuhh pelan-pelan Di, aahh.. Sshh"
"Aduh tante bentar lagi saya udah mau keluar nih.." kataku.
"Aahh.. Di.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante mau ngerasain.. Ahh.. Shh.. Mau rasain siraman hangat peju kamu.."
"Iiyyaa.. Tante.."
Lalu saya mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku.
"Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Andi mau keluar nih.. Ahh" lalu saya memeluk tante Lina sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu, tante Lina memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.
"Aahh tante juga mau keluar lagi aahh.. Sshh.." lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott..
"Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh.." Selama dua menitan saya masih menggumuli badan Tante Lina untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Lina menbelai-belai rambutku.
"Ah kau ternyata seorang jagoan, Di.."
Setelah itu ia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Dan kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya hingga tiga kali.
Setelah kejadian itu kami sering melaksanakan korelasi seks yang adakala menggandakan gaya-gaya dari film porno. Hubungan kami pun berjalan selama dua tahun dan alhasil diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, Tante Lina pun pindah ke Jakarta dan menjalankan usahanya di sana. Aku benar-benar sangat kehilangan Tante Lina dan sejak kepindahannya, tante Lina tidak pernah menghubungiku lagi.

